ANALISIS
STRUKTURAL DAN INTERTEKSTUAL PUISI TOTO SUDARTO BACHTIAR DENGAN PUISI W.S
RENDRA YANG BERTEMA KEPAHLAWANAN
Oleh :
NAMA : MUSHAITIR
PRODI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NAHDLATUL WATHAN MATARAM
2011-2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Letar Belakang
Telah banyak para penyair
menciptakan berbagai macam puisi. Pada masa puisi lama berlanjut kepada puisi
angkatan ‘45 atau biasa dikenal dengan puisi angkatan pujangga baru. Terkait dengan
puisi W.S Rendra dan Toto Sudarto Bachtiar. Kedua penyair tersebut merupakan
satu angkatan, yaitu pada masa angkatan 1950-1960 yang biasanya bertema dangan kemerdekaan seperti dalam puisinya yang
berjudul “Gerilya” karya W.S Rendra dan “Pahlwan Tak Dikenal” karya Toto
Sudarto Bachtiar.
Kedua puisi tersebut
mengisahkan kejadian yang terjadi pada masa peperangan yang mempertaruhkan jiwa
dan raga untuk memperjuangkan kehormatan tanah airnya. Seorang penyair W.S
Rendra kerap dijuluki dengan sebutan “burung merak” karena puisi yang digunakan
sajak-sajak yang romantic yang mampu menarik prhatian orang yang mendengarkan
puisinya.
1.2.
Rumusan Masalah
ü
Bagaimana unsur
intertekstual yang terdapat dalam puisi Gerilya karya W.S Rendra dengan puisi
Pahlawan Tak Dikenal karya Toto Sudarto Bachtiar.
ü
Bagaimana unsur gaya bahasa
yang terkandung pada kedua puisi tersebut, sehingga mampu menciptakan nuansa
keindahan atau nailai estetik.
ü
Bagaimana letak ,persamaan
dan perbedaan yang ada pada puisi “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto
Bachtiar dengan Puisi “Gerilya” karya W.S Rendra.
1.3.
Tujuan
ü
Untuk mengetahui unsur
intertekstual yang terdapat dalam puisi Gerilya karya W.S Rendra dengan puisi
Pahlawan Tak Dikenal karya Toto Sudarto Bachtiar.
ü
Untuk mengtahui unsur gaya
bahasa yang terkandung pada kedua puisi tersebut, sehingga mampu menciptakan
nuansa keindahan atau nailai estetik.
ü
Untuk mengetahui letak
,persamaan dan perbedaan yang ada pada puisi “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto
Sudarto Bachtiar dengan Puisi “Gerilya” karya W.S Rendra.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1. Struktural Semiotik dan Intertekstual
puisi
a.
Struktural Semiotik
Karya sastra
merupakan struktur yang kompleks sehingga untuk memahami sebuah karya sastra
diperlukan penganalisisan. Penganalisisan tersebut
merupakan usaha secara sadar untuk menangkap dan memberi muatan makna kepada
teks sastra yang memuat berbagai sistem tanda.
Seperti yang dikemukakan oleh Saussure bahwa bahasa merupakan sebuah sistem
tanda, dan sebagai suatu tanda bahasa mewakili sesuatu yang lain yang disebut
makna (Nurgiyantoro, 2002: 39). Bahasa tak lain adalah media dalam karya
sastra. Karena itu karya sastra merupakan sebuah struktur ketandaan yang
bermakna (Kaswadi, 2006: 123). Tidak terkecuali pada teks sastra yang berbentuk
puisi, maka untuk pemahaman makna pada puisi menggunakan kajian struktural yang
tidak dapat dipisahkan dengann kajian semiotik yang mengkaji tanda-tanda. Hal
ini sejalan dengan pendapat Pradopo (1987: 108) yang mengemukakan bahwa
analisis struktural tidak dapat dipisahkan dengan analisis semiotik. Karena
semiotik dan strukturalisme adalah prosedur formalisasi dan klasifikasi
bersama-sama. Keduanya memahami keseluruhan kultur sebagai sistem komunikasi
dan sistem tanda dan berupaya kearah penyingkapan aturan-aturan yang
mengikat. Analisis tanda sebagai hasil proses-proses sosial menuju kepada
sebuah pembongkaran struktur-struktur dalam yang mengemudikan setiap komunikasi (Stiegler, 2001).
Hal ini menandakan bahwa sistem tanda dan konvensinya merupakan jalan dalam
pembongkaran makna, tanpa memperhatikan sistem tanda maka struktur karya sastra
tidak dapat dimengerti maknanya secara keseluruhan.
Munculnya
kajian struktural semiotik ini sebagai akibat ketidakpuasan terhadap kajian struktural yang hanya menitikberatkan
pada aspek intrinsik, semiotik memandang karya sastra memiliki sistem tersendiri. Karena itu, muncul kajian struktural semiotik untuk mengkaji
aspek-aspek struktur dengan tanda-tanda (Endraswara,
2003: 64) sehingga dapat dikatakan bahwa kajian semiotik ini merupakan lanjutan
dari strukturalisme.
b. Hubungan Intertekstual
Adapun
selain pengkajian dari structural semiotic adapula pengkajian puisi dari segi
hubungan intertekstualnya. Dilihat dari prinsif intertekstual itu sendiri
merupakan salah satu sarana pemberian makna kepada sebuah teks sastra (sajak).
Hal ini mengingat bahwa satrawan itu menanggapi teks-teks lain yang ditulis
sebelumnya. Dalam menangggapi teks itu penyair mempunyai pikiran-pikiran,
gagasan-gagasan dan konsep estetik sendiri yang
ditentukan oleh horzon harapannya, yaitu pikiran-pikiran , konsep
estetik dan pengetahuan sastra yang dimilikinya.
Dalam
kesusastraan Indonesia, hubungan intertekstual antara satu karya sastra denagan
karya sastra yang lain, baik antara karya sezaman maupun zaman sebelumnya.
Seperti pada materi yang akan dibahas yakni sastrawan yang memiliki angkatan
sezaman; sastrawan W.S Rendra dengan Toto Sudarto Bachtiar.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1. ANALISIS STRUKTURAL DAN INTERTEKSTUAL PUISI
TOTO SUDARTO BACHTIAR DENGAN PUISI W.S RENDRA YANG BERTEMA KEPAHLAWANAN
3.1.1.
Analisis Struktural
Kepuitisan
Ada kriteria dalam
menganalisis intertekstual kepuitisan yaitu:
A.
Pilihan Kata
Kata-kata di dalam sajak adalah kata-kata yang sama sekali
berbeda dengan teks dalam bentuk yang lain. Kata-kata dalam sajak memiliki
peran sangat esensial karena ia tidak saja harus mampu menyampaikan gagasan,
tetapi juga dituntut untuk mampu menggambarkan imaji sang penyair dan
memberikan impresi ke dalam diri pembacanya, karena itu kata-kata dalam puisi
lebih mengutamakan intuisi, imajinasi, dan sintesis. Pilihan kata yang tedadap dalam
puisi “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar dengan puisi
“Gerilya”karya W.S Rendra:
B.
Gaya bahasa
Bahasa
kiasan merupakan alat yang dipergunakan penyair untuk mencpai aspek kepuitisan atau sebuah kata yang
mempunyai arti secara konotatif tidak secara sebenarnya. Dalam penulisan sebuah
sajak bahasa kiasan ini digunakan untuk memperindah tampilan atau bentuk muka
dari sebuah sajak. Bahasa kiasan dipergunakan
untukmemperindah sajak-sajak yang ditulis seorang penyair. Bahasa sajak ang
tedapat dalam puisi “Pahlawan Tak Dikenal” karya T.S
Bachtiar dengan puisi “Gerilya” karya W.S Rendra.
C.
Fungsi Estetika
Puisi adalah karya sastra seni, khususnya seni sastra,
sebagai karya seni, unsure estetikanya (keindahan) harus menonjol. Tanpa adanya
keindahan itu karya kebahasan tak dapat disebut kkarya seni. Unsur-unsur
nkeindahan dalam puisi misalnya rima, irama, diksi, dan gaya bahasa. Adapun
unsure estitika tersebut sudah ada dalam puisi karya W.S Rendra dan Toto
Sudarto Bachtiar.
Pahlawan Tak Dikenal
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu unttuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tetapi bukan tidur sayang
Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padanag senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan
bunga
Tapi yang nampak,
wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalinya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di
dadanya
Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda
(Toto Sudarto Bachtiar)
Gerilya
Tubuh biru
Tatapan mata biru
Lelaki terguling di jalan.
Angin tergantung
Terkecap pahitnya tembakau
Bendungan keluh dan bencana
Dengan tujuh lobang pelor
Diketuk bgerbang langit
Dan menyala mentari muda
Melepas kesumatnya
Gadis berjalan di subuh merah
Dengan sayur-mayur di
punggung
Melihatnya pertama.
Ia beri jeritan manis
Dan duka daun wortel.
Tubh biru
Tatapan mata biru
Lelaki terguling di jalan
Orang-oorang kampung mengenalnya
Anak mjanda berambut ombak
Ditimba air bergantang-gantang
Disiram atas tubuhnya.
Tubuh biru
Tatapan mata biru
Lelaki terguling di jalan.
Lewat gardu belanda dengan berani
Terlindung warna malam
Sendiri masuk kota
Ingin ngubur ibunya.
(W.S Rendra)
3.1.2.Hubungan Intertekstual
puisi
“Pahlawan Tak Dikenal” dan “Gerilya”
Diantara
puisi karya Toto Sudarto Bachtiar dan W.S Rendra. Dilihat dari sejarah ke dua
penyair tersebut, sajak-sajak yang digunakan pada masa puisi angkatan “50-60”.
Karena kedua penyair mengapresiasi puisinya tentang kemerdekaan.
A.
Gaya
bahasa yang di gunakan dalam puisi Pahlawan Tak Dikenal dan
Gerilya
Repitisi → Merupakan
sebuah pengulangan kata, frase, dan klausa yang ada dalam kalimat sebuah puisi.
majas
metafora→ Merupakan sebuah pengungkapan yang digunakan olaeh pengarang
berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya,
bagaikan, dll.
Majas sinestesia→ Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang
dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.
Ø Gaya bahasa yang digunakan pada puisi Pahlawan Tak Dikenal
Pahlawan Tak Dikenal
Repitisi
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang
perang
Majas metafora
Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padanag senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara
menderu
Dia masih sangat muda
Majas metafora
. . . . .
Sebuah
lubang peluru bundar di dadanya
Senyum
bekunya mau berkata, kita sedang perang
(Toto Sudarto Bachtiar)
Ø
Gaya bahasa
ysng digunakan dalam puisi “Gerilya” (W.S Rendra)
-
Repitisi dan majas metafora seperti pada
kutipan “ Tubuh biru tatapan mata biru”
Tubuh biru
Tatapan mata biru
Lelaki terguling di jalan.
-
Majasa metafora
Angin tergantung
Terkecap pahitnya tembakau
Bendungan
keluh dan bencana
-
Majas metafora
Dengan
tujuh lobang pelor
Diketuk gerbang langit
Dan menyala mentari muda
Melepas kesumatnya
-
Majas
metafora
Gadis berjalan di subuh merah
Dengan sayur-mayur di punggung
Melihatnya pertama.
. . . . . .
-
Majas
Sinestesia
. . . . .
Ia beri jeritan manis
Dan duka daun wortel.
-
Majas metafora
. . . . . .
Anak janda berambut ombak
Ditimba air bergantang-gantang
Disiram
atas tubuhnya.
-
Majas metafora
Lewat gardu belanda dengan berani
Terlindung warna malam
. . . . . .
(W.S Rendra)
B. Persamaan dan
perbedaan dalam puisi karya T.S Bachtiar dengan W.S Rendra
·
Persamaan
-
Dalam puisi Pahlawan Tak Dikenal dengan puisi
Gerilya yang temanya sama-sama mangkaji tentang adanya seorang pahlawan yang
usianya masih muda dan ikut bertempur dalam sebuah peperangan.
-
Suasana yang di ciptakan kedua puisi tersebut
mengisahkan suasana galau yang mana suasana tersebut, mengisahkakn gugurnya seorang pahlawan di medan perang yang
terbaring dan terguling di jalan.
-
Diantara kedua puisi tersebut sama-sama membandingkan
sorang pahlawan yang tertemabak dengan “lubang
peluru atau pelor di dadanya”. Dilihahat dari kutipan yang diambil dari
sajak masing-masing puisi sebagai bukti adanya kesamaan yang terdapat pada kedua puisi tersebut:
ü Dengan tujuh lobang pelor di ketuk gerbang
langit dan menyala mentari muda melapas kesumatnya (Gerilya)
ü Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang (Pahlawan Tak Dikenal)
·
Perbedaan
-
Puisi yang berjudul “Pahlawan Tak Dikenal”
gaya bahasa yang digunakan sangat kongkrit serta bersifat denotatif atau mamkna
yang sebenarnya sehingga mudah di mengerti. Sedangkan dalam puisi yang berjudul
“Gerilya” gaya bahasa yang digunakan penuh dengan ungkapan romantik serta
metaforis-alegori dan juga terdapat sebuah inestesia. seperti dalam kutipan: “ ia beri jeritan manis dan duka dan wortel”.
-
Puisi Pahlawan Tak Dikenal mengisahkan tentang
sorang pahlawan yang ikut berjuang pada saat peperangan. Akan tetapi pahlawan
tersebut tiada satupun yang mengnalnya. Sedangkan dalam puisi Gerilya pahlawan
yang ikut berperang itu sudah dikenalnya.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Simpulan
Pada puisi pahlawan tak dikenal karya Toto Sudarto Bachtiar dengan
puisi gerilya karya W.S Rendra tentunya memiliki kesamaan dan perbedaan.
Diantaranya kedua puisi memiliki kesamaan dari segi penyampaian melalui pilihan
kata dan gaya bahasa yang digunakan. Disertai dengan sejarah kedua penyair
tersebut memiliki kesamaan sejarah yang melatar belakangi terciptanya puisinya.
Yakni puisi yang bertemakan tentang kepahlawan. Puisi ini juga tidak jauh
bedanya dengan puisi karya khairil anwar yang identik dengan puisi yang bertema
kemerdekaan. Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian puisi pahlawan tak
dikenal dengan puisi gerilya menggunakan analisis structural semiotic yang di
dalamnya terdapat sebuah pengkajian tentang pilihan kata serta gaya bahasa yang
mendukung estetik atau keindahan diantara kedua puisi tersebut.
4.2. saran
Dari beberapa penjelasan dan isi makalah sederhana ini yang membahas
tentang analisis structural semiotik yang terdapat pada
puisi pahlawan tak dikenal karya Toto Sudarto Bachtiar dengan puisi Gerilya
karya W.S Rendra tidak terlepas dari rangkaian kalimat dan ejaan penulisnya. Saya
menyadari bahwa masih jauh dari kesempurnaan seperti yang diiharapkan oleh pembaca dan pada khususnya dosen pengampu mata kuiah ini. Oleh
karena itu kami mengharapkan kepada para pembaca atau mahasiswa serta dosen
pengampu kritik dan saran yang bersifat konstruktif dalam terselesainya makalah
selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Kajian struktural semiotik Dikutip dari
Kajian Prosa Fiksi dan Drama oleh Jabohim
Wiyanto Asul. 2005. Kesuastraan Sekolah. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Pradopo Rachmat Djoko. 2009. Penkajian puisi. Yogyakarta: Gajah Maja
University Press