Minggu, 04 November 2012

puisi berkasih


DARA BERMATA SIPIT

Dara bermata sipit berkulit putih
Disinari cahaya lampu putih duduk di atas dua roda
Kulihat ia bersenda gurau mengisahkan canda tawa tersenyum manja
Menutupi duka dalam benak yang menyiksa
Tak sedikitpun keraguan pada dirinya
Dara bermata sipit berkulit putih
Terpanggil batin manarik tubuh terseret kedepan
Semakin jelas kutatap wajah indah menawan
Ooohh..alangkah sempurna wajah ciptaan Tuhan
Ku terbawa suasana berjuta keindahan
Dara bermata sipit berkulit putih
Suasana malam di taburi gemerlap bintang
Sesayup redup masuk kedalam kamar, menghilang
Kutunggu suasana itu lagi menjelang
Keindahan wajah akan terus terbayang.

By:
MUSHAITIR


HANYA KAU

Teriring salam sejuta harap menentang jiwa mengungkap sebuah rasa terpendam dalam benak fikir sejuta keluh kesah.
Aku tidak mau melihat kau maneteskan air mata
Aku tidak mau kau merasakan duka
Aku tidak mau hati mukian merana
Aku tidak mau melihat goresan luka membekas
Hapus semua keraguan tanpa tersisa
Berlarilah menu juterbit surya
Bebaskan diri dari keluh kesah menentang
Kau..hanya kau
Biarkan bibir ini berkata
Lantang tegas menggema satu ruang
Sunyi sepi tiada lagi dalam jiwa
Kutemani kau dalam jangka panjang
Tanpa syarat membatasi jarak pandang
Akan kupersembahkan manisnya kebahagian
Hanya Untuk Kau gadis yang kusayang

By:
MUSHAITIR
RUANG

Dalam satu ruang terkumpul berbagai corak
Mambawa duka membawa kebahagiaan
Lalu ia menyembunyikan corak itu
Sungguh pintar tapi belukar
Ia terus bicara tak perduli sekitar ruang
Tak tau kapan mulut terkunci rapat
Mengusik dalam penak, bosan.
Ia pergi suasana tenang
Damai tercipta tanpa ada belukar
Di sudut terdiam dengan kesibukan
Menatap layar jari-jemari berdansa
Sekilas kuhampiri bertanya
Kau siapa?
Aku bagian dari tulang rusuk mu.

By:
MUSHAITIR


SENYUM MEMBAWA LUKA

Seketika ia hadir membawa senyuman manis
Lalu pergi meninggalkan luka teriris
Tak perduli seberapa kuat menahan duka
Tubuh Berbaring tengadah dada
Bertahun-tahun rasa terpendam
Terbalas dengan luka sangat dalam
Pesona alam semakin kelam
Tetesan air mata pandangan menjadi buram
Selembar kertas putih bertinta
Terlipat rapi kuning berpita
Tak disangka telah dipinang
Sang pemuda dari seberang



By:
MUSHAITIR


Manusia dan binatang
Tempayan bekas bergelimang emas
Lekas pergi dari sini
Tak usah kau bujuk diriku
Kutau siapa kau
Hanya ular berbisa madu
Melingkar di atas kursi
Bermulut kecil menelan berjuta mangsa
Tempayan bekas bergelimang emas
Lekas pergi dari sini
Tak usah kau bujuk diriku
Kutau siapa kau
Harimau dengan taring tajam
Menerkam siang dan malam
Bersarang luas di kerangkeng emas
Tempayan bekas bergelimang emas
Lekas pergi dari sini
Tak usah kau bujuk diriku
Kutau siapa kau
Manusia berkepala ular bertubuh harimau
pintar berbelit dan menerkam
tak perduli mangsa
asalkan perut buncitmu puas
enyah saja kau   

MUSHAITIR

analisis unsur imaji pada puuisi


ANALISIS UNSURE IMAJI PADA PUISI

Nama                    : MUSHAITIR

KEMERDEKAAN

Ketika ruang kembali terang
Itulah terangnya matahari yang menembus
Celah dedaunan
Embun pagi seolah menguap
Diatas jalan-jalan berlumpur, diatas tegalan.
Dan puluha kaki kasar petani
Bergerak sigap ke hilir
Puluhan kaki petani ini kemudian
Berubah menjadi seratus, seribu,
Puluhan, bahkan ratusan ribu.
Diatas rumput,
Di aspsl tengah kota.
Atau dijalan dan diatas kreta,
Sepanjang rel
Atau juga di peron-peron stasiun.
Lelaki dan perempuan bergerak
kearah yang sama.
Berdempal-dempal mereka berdesakan
Menjadi satu,
Membawa bendera merah da putih serta teriak
Merdeka !

(Khairil Anwar “ AKU” )





Analisis imajinasi seni pada puisi khairil anwar “merdeka”
Ketika ruang kembali terang
Itulah terangnya matahari yang menembus
Celah dedaunan
Imajinasi pengindraan tyang di gunakan pada bait puisi di atas yakni indra ”pengglihatan” yakni ruang...terang...matahari. dapat di ketahiui sorang yang membuat puisi tersebut dapat melihat terangnya sinar matahari.
Embun pagi seolah menguap
Diatas jalan-jalan berlumpur, diatas tegalan.
Dan puluhan kaki kasar petani
Bergerak sigap ke hilir

Pengindraan dlm bait puisi tersebut yang digunakan yakni:
indra “gerak” dapat diketahui dari baris puisinya “ puluhan kaki kasar petani bergerak sigap ke hilir” sedangkan
indra “penglihatan” ia melihat kaki yang sedang bergerak ke hilir.

Puluhan kaki petani ini kemudian
Berubah menjadi seratus, seribu,
Puluhan, bahkan ratusan ribu.
Diatas rumput,
Di aspali tengah kota.

Pengindraan yang di gunakan yakni indra “penglihatan” dapat di ketahui dari baris puisi yakni “puluhan kaki petani ini kemudian berubah menjadi seratus..... bahkan ratusan ribu di atas rumput” /maksud dari kalimmat tersebut para petani yang mulanya berjumlah sedikit tiba-tiba menjadi banyak dan berjalan di atas rerumputan dan sampai di tengah jaln aspal myang terdapat di tengah kota.
Atau dijalan dan diatas kreta,
Sepanjang rel
Atau juga di peron-peron stasiun.
Lelaki dan perempuan bergerak
kearah yang sama.
Berdempal-dempal mereka berdesakan
Menjadi satu,
Membawa bendera merah dan putih serta teriak
Merdeka !
Pengindraan yang terdapat pada bait puisi tersebut yakni indra “ penglihatan”, “gerak”, dan “ pendengaran”. Dapat di ketahui dari baris puisinya yakni:
-          Indra penglihatandi jalan dan di atas kreta, sepanjang rel. Atau juga di peron-peron stasiun. Maksud dari kalimat tersebut bahwa ia melihat orang-orang yang berada di atas kereta dan di peron-peron stasiun.
-          Indra gerak→ lelaki dan perempuan bebrgerak ke arah myang sama, berdempal-dempal mereka berdesakan menjadi satu. Maksud dari kalimat puisi tersebut yakni lelaki dan perempuan bergerak dan berkumpul menjadi satu membuat suasana menjadi ramai dan akhirnya menjadi berdesakan.
-          Indra pendengaran→ teriak merdeka ! maksudnya menimbulkan suara terikan yang kedengaran membuat suana ramai dengan teriakan merdeka.



ANALISIS STRUKTURAL DAN INTERTEKSTUAL PUISI TOTO SUDARTO BACHTIAR DENGAN PUISI W.S RENDRA YANG BERTEMA KEPAHLAWANAN













Oleh  :

NAMA         : MUSHAITIR





PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL WATHAN MATARAM
2011-2012




BAB I
PENDAHULUAN
1.1.           Letar Belakang
Telah banyak para penyair menciptakan berbagai macam puisi. Pada masa puisi lama berlanjut kepada puisi angkatan ‘45 atau biasa dikenal dengan puisi angkatan pujangga baru. Terkait dengan puisi W.S Rendra dan Toto Sudarto Bachtiar. Kedua penyair tersebut merupakan satu angkatan, yaitu pada masa angkatan 1950-1960 yang biasanya bertema dangan kemerdekaan seperti dalam puisinya yang berjudul “Gerilya” karya W.S Rendra dan “Pahlwan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar.
Kedua puisi tersebut mengisahkan kejadian yang terjadi pada masa peperangan yang mempertaruhkan jiwa dan raga untuk memperjuangkan kehormatan tanah airnya. Seorang penyair W.S Rendra kerap dijuluki dengan sebutan “burung merak” karena puisi yang digunakan sajak-sajak yang romantic yang mampu menarik prhatian orang yang mendengarkan puisinya.
1.2.          Rumusan Masalah
ü  Bagaimana unsur intertekstual yang terdapat dalam puisi Gerilya karya W.S Rendra dengan puisi Pahlawan Tak Dikenal karya Toto Sudarto Bachtiar.
ü  Bagaimana unsur gaya bahasa yang terkandung pada kedua puisi tersebut, sehingga mampu menciptakan nuansa keindahan atau nailai estetik.
ü  Bagaimana letak ,persamaan dan perbedaan yang ada pada puisi “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar dengan Puisi “Gerilya” karya W.S Rendra.

1.3.           Tujuan
ü  Untuk mengetahui unsur intertekstual yang terdapat dalam puisi Gerilya karya W.S Rendra dengan puisi Pahlawan Tak Dikenal karya Toto Sudarto Bachtiar.
ü  Untuk mengtahui unsur gaya bahasa yang terkandung pada kedua puisi tersebut, sehingga mampu menciptakan nuansa keindahan atau nailai estetik.
ü  Untuk mengetahui letak ,persamaan dan perbedaan yang ada pada puisi “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar dengan Puisi “Gerilya” karya W.S Rendra.




















BAB II
KAJIAN TEORI
2.1. Struktural Semiotik dan Intertekstual puisi
a.      Struktural Semiotik
Karya sastra merupakan struktur yang kompleks sehingga untuk memahami sebuah karya sastra diperlukan penganalisisan. Penganalisisan tersebut merupakan usaha secara sadar untuk menangkap dan memberi muatan makna kepada teks sastra yang memuat berbagai sistem tanda. Seperti yang dikemukakan oleh Saussure bahwa bahasa merupakan sebuah sistem tanda, dan sebagai suatu tanda bahasa mewakili sesuatu yang lain yang disebut makna (Nurgiyantoro, 2002: 39). Bahasa tak lain adalah media dalam karya sastra. Karena itu karya sastra merupakan sebuah struktur ketandaan yang bermakna (Kaswadi, 2006: 123). Tidak terkecuali pada teks sastra yang berbentuk puisi, maka untuk pemahaman makna pada puisi menggunakan kajian struktural yang tidak dapat dipisahkan dengann kajian semiotik yang mengkaji tanda-tanda. Hal ini sejalan dengan pendapat Pradopo (1987: 108) yang mengemukakan bahwa analisis struktural tidak dapat dipisahkan dengan analisis semiotik. Karena semiotik dan strukturalisme adalah prosedur formalisasi dan klasifikasi bersama-sama. Keduanya memahami keseluruhan kultur sebagai sistem komunikasi dan sistem tanda dan berupaya kearah penyingkapan aturan-aturan yang mengikat. Analisis tanda sebagai hasil proses-proses sosial menuju kepada sebuah pembongkaran struktur-struktur dalam yang mengemudikan setiap komunikasi (Stiegler, 2001). Hal ini menandakan bahwa sistem tanda dan konvensinya merupakan jalan dalam pembongkaran makna, tanpa memperhatikan sistem tanda maka struktur karya sastra tidak dapat dimengerti maknanya secara keseluruhan.
Munculnya kajian struktural semiotik ini sebagai akibat ketidakpuasan terhadap kajian struktural yang hanya menitikberatkan pada aspek intrinsik, semiotik memandang karya sastra memiliki sistem tersendiri. Karena itu, muncul kajian struktural semiotik untuk mengkaji aspek-aspek struktur dengan tanda-tanda (Endraswara, 2003: 64) sehingga dapat dikatakan bahwa kajian semiotik ini merupakan lanjutan dari strukturalisme.
b.      Hubungan Intertekstual
Adapun selain pengkajian dari structural semiotic adapula pengkajian puisi dari segi hubungan intertekstualnya. Dilihat dari prinsif intertekstual itu sendiri merupakan salah satu sarana pemberian makna kepada sebuah teks sastra (sajak). Hal ini mengingat bahwa satrawan itu menanggapi teks-teks lain yang ditulis sebelumnya. Dalam menangggapi teks itu penyair mempunyai pikiran-pikiran, gagasan-gagasan dan konsep estetik sendiri yang  ditentukan oleh horzon harapannya, yaitu pikiran-pikiran , konsep estetik dan pengetahuan sastra yang dimilikinya.
Dalam kesusastraan Indonesia, hubungan intertekstual antara satu karya sastra denagan karya sastra yang lain, baik antara karya sezaman maupun zaman sebelumnya. Seperti pada materi yang akan dibahas yakni sastrawan yang memiliki angkatan sezaman; sastrawan W.S Rendra dengan Toto Sudarto Bachtiar. 














BAB III
PEMBAHASAN

3.1. ANALISIS STRUKTURAL DAN INTERTEKSTUAL PUISI TOTO SUDARTO BACHTIAR DENGAN PUISI W.S RENDRA YANG BERTEMA KEPAHLAWANAN

3.1.1. Analisis Struktural Kepuitisan
Ada kriteria dalam menganalisis intertekstual kepuitisan yaitu:
A.        Pilihan Kata
Kata-kata di dalam sajak adalah kata-kata yang sama sekali berbeda dengan teks dalam bentuk yang lain. Kata-kata dalam sajak memiliki peran sangat esensial karena ia tidak saja harus mampu menyampaikan gagasan, tetapi juga dituntut untuk mampu menggambarkan imaji sang penyair dan memberikan impresi ke dalam diri pembacanya, karena itu kata-kata dalam puisi lebih mengutamakan intuisi, imajinasi, dan sintesis. Pilihan kata yang tedadap dalam puisi “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar dengan puisi “Gerilya”karya W.S Rendra:
B.        Gaya bahasa
Bahasa kiasan merupakan alat yang dipergunakan penyair untuk mencpai aspek kepuitisan atau sebuah kata yang mempunyai arti secara konotatif tidak secara sebenarnya. Dalam penulisan sebuah sajak bahasa kiasan ini digunakan untuk memperindah tampilan atau bentuk muka dari sebuah sajak. Bahasa kiasan dipergunakan untukmemperindah sajak-sajak yang ditulis seorang penyair. Bahasa sajak ang tedapat dalam puisi “Pahlawan Tak Dikenal” karya T.S Bachtiar dengan puisi “Gerilya” karya W.S Rendra.
C.         Fungsi Estetika
Puisi adalah karya sastra seni, khususnya seni sastra, sebagai karya seni, unsure estetikanya (keindahan) harus menonjol. Tanpa adanya keindahan itu karya kebahasan tak dapat disebut kkarya seni. Unsur-unsur nkeindahan dalam puisi misalnya rima, irama, diksi, dan gaya bahasa. Adapun unsure estitika tersebut sudah ada dalam puisi karya W.S Rendra dan Toto Sudarto Bachtiar.
Pahlawan Tak Dikenal
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu unttuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tetapi bukan tidur sayang

Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padanag senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil  merangkai karangan bunga
Tapi yang  nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalinya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar  di dadanya
Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda
(Toto  Sudarto Bachtiar)

Gerilya
Tubuh biru
Tatapan mata biru
Lelaki terguling di jalan.

Angin tergantung
Terkecap pahitnya tembakau
Bendungan  keluh dan bencana

Dengan tujuh lobang pelor
Diketuk bgerbang langit
Dan menyala mentari muda
Melepas kesumatnya

Gadis berjalan di subuh merah
Dengan sayur-mayur  di punggung
Melihatnya pertama.
Ia beri jeritan manis
Dan duka daun  wortel.

Tubh biru
Tatapan  mata biru
Lelaki terguling di jalan

Orang-oorang kampung mengenalnya
Anak mjanda berambut ombak
Ditimba air bergantang-gantang
Disiram  atas tubuhnya.

Tubuh biru
Tatapan mata biru
Lelaki terguling di jalan.

Lewat gardu belanda dengan berani
Terlindung warna malam
Sendiri masuk kota
Ingin ngubur ibunya.
(W.S Rendra)
         3.1.2.Hubungan Intertekstual puisi “Pahlawan Tak Dikenal” dan “Gerilya”
            Diantara puisi karya Toto Sudarto Bachtiar dan W.S Rendra. Dilihat dari sejarah ke dua penyair tersebut, sajak-sajak yang digunakan pada masa puisi angkatan “50-60”. Karena kedua penyair mengapresiasi puisinya tentang kemerdekaan.
A.     Gaya bahasa yang di gunakan dalam puisi Pahlawan Tak Dikenal dan Gerilya
Repitisi → Merupakan sebuah pengulangan kata, frase, dan klausa yang ada dalam kalimat sebuah puisi.
majas metafora→ Merupakan sebuah pengungkapan yang digunakan olaeh pengarang berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya, bagaikan, dll.
Majas sinestesia Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.

Ø  Gaya bahasa yang digunakan pada puisi Pahlawan Tak Dikenal

Pahlawan Tak Dikenal
Repitisi
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Majas metafora
Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padanag senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu
Dia masih sangat muda

                 

Majas metafora
. . . . .
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

 (Toto  Sudarto Bachtiar)
Ø  Gaya bahasa ysng digunakan dalam puisi “Gerilya” (W.S Rendra)
-        Repitisi dan majas metafora seperti pada kutipan “ Tubuh biru tatapan mata biru”
Tubuh biru
Tatapan mata biru
Lelaki terguling di jalan.
-        Majasa metafora
Angin tergantung
Terkecap pahitnya tembakau
Bendungan  keluh dan bencana
-        Majas metafora
Dengan  tujuh lobang pelor
Diketuk gerbang langit
Dan menyala mentari muda
Melepas kesumatnya
-        Majas metafora
Gadis berjalan di subuh merah
Dengan sayur-mayur  di punggung
Melihatnya pertama.
. . . . . .

-        Majas Sinestesia
. . . . .
Ia beri jeritan manis
Dan duka daun wortel.
-        Majas metafora
. . . . . .
Anak janda berambut ombak
Ditimba air bergantang-gantang
Disiram  atas tubuhnya.
-        Majas metafora
Lewat gardu belanda dengan berani
Terlindung warna malam
. . . . . .
 (W.S Rendra)
B.     Persamaan dan perbedaan dalam puisi karya T.S Bachtiar dengan W.S Rendra
·        Persamaan
-          Dalam puisi Pahlawan Tak Dikenal dengan puisi Gerilya yang temanya sama-sama mangkaji tentang adanya seorang pahlawan yang usianya masih muda dan ikut bertempur dalam sebuah peperangan.
-          Suasana yang di ciptakan kedua puisi tersebut mengisahkan suasana galau yang mana suasana tersebut, mengisahkakn gugurnya seorang pahlawan di medan perang yang terbaring dan terguling di jalan.
-          Diantara kedua puisi tersebut sama-sama membandingkan sorang pahlawan yang tertemabak dengan “lubang peluru atau pelor di dadanya”. Dilihahat dari kutipan yang diambil dari sajak masing-masing puisi sebagai bukti adanya kesamaan  yang terdapat pada kedua puisi tersebut:
ü  Dengan tujuh lobang pelor di ketuk gerbang langit dan menyala mentari muda melapas kesumatnya (Gerilya)
ü  Sebuah lubang peluru bundar di dadanya senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang (Pahlawan Tak Dikenal)
·         Perbedaan
-          Puisi yang berjudul “Pahlawan Tak Dikenal” gaya bahasa yang digunakan sangat kongkrit serta bersifat denotatif atau mamkna yang sebenarnya sehingga mudah di mengerti. Sedangkan dalam puisi yang berjudul “Gerilya” gaya bahasa yang digunakan penuh dengan ungkapan romantik serta metaforis-alegori dan juga terdapat sebuah inestesia. seperti dalam kutipan: “ ia beri jeritan manis dan duka dan wortel”.
-           Puisi  Pahlawan Tak Dikenal mengisahkan tentang sorang  pahlawan yang ikut berjuang  pada saat peperangan. Akan tetapi pahlawan tersebut tiada satupun yang mengnalnya. Sedangkan dalam puisi Gerilya pahlawan yang ikut berperang itu sudah dikenalnya.


















                                                         


BAB IV
PENUTUP
4.1. Simpulan
Pada puisi pahlawan tak  dikenal karya Toto Sudarto Bachtiar dengan puisi gerilya karya W.S Rendra tentunya memiliki kesamaan dan perbedaan. Diantaranya kedua puisi memiliki kesamaan dari segi penyampaian melalui pilihan kata dan gaya bahasa yang digunakan. Disertai dengan sejarah kedua penyair tersebut memiliki kesamaan sejarah yang melatar belakangi terciptanya puisinya. Yakni puisi yang bertemakan tentang kepahlawan. Puisi ini juga tidak jauh bedanya dengan puisi karya khairil anwar yang identik dengan puisi yang bertema kemerdekaan. Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian puisi pahlawan tak dikenal dengan puisi gerilya menggunakan analisis structural semiotic yang di dalamnya terdapat sebuah pengkajian tentang pilihan kata serta gaya bahasa yang mendukung estetik atau keindahan diantara kedua puisi tersebut. 

4.2. saran
Dari beberapa penjelasan dan isi makalah sederhana ini yang membahas tentang analisis structural semiotik yang terdapat pada puisi pahlawan tak dikenal karya Toto Sudarto Bachtiar dengan puisi Gerilya karya W.S Rendra tidak terlepas dari rangkaian kalimat dan ejaan penulisnya. Saya menyadari bahwa masih jauh dari kesempurnaan seperti yang diiharapkan oleh pembaca dan pada khususnya dosen pengampu mata kuiah ini. Oleh karena itu kami mengharapkan kepada para pembaca atau mahasiswa serta dosen pengampu kritik dan saran yang bersifat konstruktif dalam terselesainya makalah selanjutnya.

           


DAFTAR PUSTAKA

Kajian struktural semiotik Dikutip dari Kajian Prosa Fiksi dan Drama oleh Jabohim
Wiyanto Asul. 2005. Kesuastraan Sekolah. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Pradopo Rachmat Djoko. 2009. Penkajian puisi. Yogyakarta: Gajah Maja University Press